Analisa Join Development KFX/IFX Indonesia dengan Korea Selatan

11 May 2012 | by Admin | 26845 views | comments


Bertemu kembali dengan saya admin AnalisisMiliter.com, setelah beberapa hari tidak memposting tulisan. Saya pun menyadari bahwa dua tulisan terakhir saya kurang memuaskan, karena saya sedikit terburu-buru mengerjakannya dikarenakan kesibukan yang begitu banyak. Pada kesempatan kali ini saya akan membuat sebuah tulisan yang mudah-mudahan di sukai semua pembaca blog ini.


Tulisan kali ini akan saya fokuskan kepada analisa mengenai Join Development Jet Tempur KFX/IFX antara Korea Selatan dan Indonesia. Sebenarnya topic ini bukanlah topic yang baru, namun sudah topic lama yang sudah sering di bahas di banyak blog. Tetapi saya belum menemukan analisis mendalam tentang project KFX ini. Kebanyakan informasi di blog-blog militer yang saya jumpai hanya berupa Copy + Paste dari situs berita nasional. Sehingga kita tidak mendapat analisa yang dalam dari tulisan tersebut. Nah pada tulisan ini saya akan mencoba membuat sebuah analisa versi saya (versi anak kuliahan).


KFX dan Latar Belakang Kemunculannya


KFX adalah sebuah project prestisius Korea Selatan yang sedang gigih meningkatkan kemampuan industry strategisnya. Setelah berhasil mengembangkan pesawat Latih KT-1 Wongbee, pesawat latih lanjutan T/A-50 dan F/A-50, Korea Selatan masih memiliki ambisi besar untuk membuat project jet fighter yang jauh lebih baik dari yang mereka sudah mampu buat sebelumnya. Hal ini bisa dikatakan merupakan project Korea Selatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah bangsa yang maju.


Project KFX ini juga dilatarbelakangi kondisi hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara yang secara teknikal masih belum berdamai sampai sekarang. Kita tau bahwa musuh mereka Korea Utara memiliki jumlah pesawat yang jauh lebih banyak, walaupun dari segi kualitas pesawat Korea Selatan jelas unggul telak. Namun Korea Selatan terus mencari cara agar selain unggul kualitas, jumlah pesawat mereka bisa menyamai jumlah pesawat tempur Korea Utara. Ditambah lagi kenyataan bahwa pesawat tempur mereka sebagian sudah tua yaitu F-5 E/F dan F-4 Phantom. Kedua jenis pesawat ini,harus secepatnya digantikan oleh Korea Selatan. Maka dari penjelasan inilah, Korea Selatan akhirnya mengambil kebijakan tentang Project KFX ini. Pesawat KFX ini diharapkan nantinya bisa menggantikan peranan jet lawas F-5 dan F-4.


Selain dengan Korea Utara, pihak Korea Selatan juga memiliki tetangga seperti Cina dan Jepang yang memungkinkan terjadinya perselisihan antara Korea Selatan dengan tetangga tersebut. Kita ketahui sendiri bahwa angkatan udara Cina dan Jepang adalah salah satu yang terbaik di Asia. Hal ini membuat Korea Selatan mau atau tidak mau harus mengambil langkah cepat untuk melakukan perimbangan kekuatan di kawasan mereka. Perimbangan kekuatan inilah yang diharapkan dengan hadirnya KFX di Angkatan Udara Korea Selatan (tentunya berdampingan pesawat lainnya).


Namun karena keterbatasan dana dan technology, membuat pihak Korea Selatan harus menggandeng pihak lain dalam mengerjakan project ini. Nah dari sekian banyak Negara yang tertarik terlibat dalam mega project ini, akhirnya Indonesia terpilih sebagi Negara mitra kerjasama dalam pembangunan jet KFX ini. Dari total dana project, Pemerintah Korea Selatan akan menanggung 60%, pemerintah Indonesia 20% dan pihak swasta 20%. Selain menggandeng Indonesia dari segi dana, Korea Selatan juga menggandeng banyak perusahaan ternama bidang pengembangan jet tempur untuk terlibat dalam project KFX ini. Diantaranya adalah Indonesia Aerospace (PT DI), Turki Aerospace Industries, Saab, Boeing, dan Lockheed Martin. Hal ini untuk memastikan adanya bantuan teknik dari perusahaan-perusahan tersebut.


KFX dan Target Kualitas Pesawat yang diharapkan


Dalam membuat sebuah project besar dengan dana yang sangat besar pula, tentu ada sebuah target yang mau di tuju oleh Negara yang melakukan Project tersebut. Demikian juga halnya dengan project KFX ini, ada semacam standart jet tempur yang hendak dicapai. Target yang ingin dicapai adalah pesawat tempur KFX ini dirancang menggunakan mesin ganda yang setara dengan mesin General Electric F144 atau SNECMA M88 yang digunakan pada pesawat temput F/A-18 E/F Super Hornet dari Boing dan Dassault Rafale. Dan dari segi radius tempur diharapkan kemampuannya lebih besar 50% dari kemampuan KF-16 (F-16 Block 52). Selain itu diharapkan bahwa usia Airframe pesawat lebih awet 34% dari F-16 Block 52, memiliki system avionic yang lebih baik dan memiliki kemampuan data link yang baik serta elektronik warfare yang lebih baik dari F-16 Block 52. Pesawat KFX ini juga diharapkan akan menggunakan radar AESA (Active Electronically Scanned Array) yang lebih baik dari radar yang digunakan oleh pesawat F-16 Block 52.



Selain itu Design KFX ini diharapkan memiliki tingkat RCS (tingkat kemampuan radar mengenali sebuah benda di udara) yang jauh lebih kecil dari F-16 Block 52, Rafale maupun Eurofighter Typhoon. Hal ini berguna agar radar musuh tidak mudah mengetahi keberadaan jet tempur ini nantiya. KFX ini juga diharapkan memiliki Payload yang lebih banyak dari pada F-16 Block 52. Sehingga dengan keterangan ini bisa disebutkan bahwa KFX adalah pesawat generasi 4.5 yang berarti memiliki fitur yang canggih dan dilengkapi kemampuan “Semi-Stealth”. Dengan penjelasan seperti ini dapat kita lihat bahwa pesawat ini nantinya akan lebih baik dari F-16 Block 52 seperti yang dimiliki oleh Singapura saat ini. Dan dari beberapa aspek seperti radar, Stealth Capibility dan lainnya, pesawat ini juga bisa dikatakan masih lebih baik dari jet Sukhoi seperti yang digunakan oleh Indonesia dan Malaysia, maupun F-15 SG yang digunakan oleh Singapura.


Sedikit Koreksi Tulisan Tentang KFX di MilitaryOfMalaysia.net


Melakukan analisa mengenai KFX ini merupakan hal yang mengasyikkan sehingga banyak sekali orang yang melakukan analisa menurut pendapatnya tentang pesawat ini. Banyak blog-blog militer yang membahas mengenai KFX ini, bahkan forum-forum militer seperti Kaskus dan lainnya berlomba-lomba melakukan analisa mengenai hal ini. Namun dari sekian banyak analisa mengenai KFX di blog militer, ada sebuah analisa yang menurut saya cukup menarik. Saya mengetahui ini karena tulisan di blog tersebut sudah menjadi bahan pembicaraan hangat di Kaskus Militer.


Tulisan yang saya maksud adalah tulisan admin MilitaryOfMalaysia.net yang berjudul Analisis Pembelian KFX Oleh Indonesia. Tulisan ini sungguh sangatlah bagus dan saya menaruh hormat kepada admin blog ini (Syah Paskal, CMIIW) yang telah bersusah payah berjuang melakukan riset untuk menulis artikel tersebut. Saya pribadi mengetahui bagaimana susahnya menulis sebuah artikel yang bagus seperti itu. Dalam hal ini saya sangat salut dengan admin blog tersebut.


Namun dibeberapa bagian tulisan itu ada sedikit yang menurut saya masih kurang tepat (setidaknya menurut saya). Nah pada tulisan saya ini, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada beliau, saya ingin melakukan sedikit koreksi atas tulisan beliau diblog tersebut. Saya sudah mengambil Screen Shoot dari tulisan beliau beberapa waktu yang lalu. Dan pada saat saya menulis artikel ini, isi Screen Shoot masih sama dengan di blog aslinya. Namun kedepan saya tidak tau apakah akan dirubah atau tidak. Saya sesungguhnya ingin melakukan koreksi ini langsung di blog tersebut, tetapi saya tidak nyaman memberikan komentar disana karena banyaknya komentar yang kurang sedap di pandang disana. Nah karena kebetulan saya juga ingin menulis tulisan tentang KFX, maka koreksi ini sekailan saya tulisakan disini.


Koreksi pertama saya adalah pada point ke 8 pada tulisan tersebut yang berbunyi :


“ 8. Dari segi kemampuan, jet KF-X mempunyai teknologi yang baik sedikit dari F-16, umum harus diingatkan, jet F-16 merupakan pesawat yang dibangunkan pada tahun 1976 dan 10 tahun lagi, pesawat itu akan dimasukkan ke dalam muzium.”


Memang benar bahwa F-16 adalah pesawat yang telah dikembangakan sejak tahun 1970-an. Pesawat F-16 ini mulai di produksi missal di awal tahun 1980-an. Namun perlu kita ingat bahwa tidak semua F-16 adalah ‘teknologi 70-an’. Seperti kita ketahui bahwa F-16 ini sendiri memiliki banyak sekali variannya mulai dari F-16 A/B, F-16 C/D, F-16 E/F dan F-16 Viper. F-16 A/B sendiri terdiri dari banyak block mulai dari Block 1, Block 5, Block 10, Block 15, Block 15 OCU dan Block 20. F-16 C/D adalah varian yang lebih baik dari varian A/B, dimana terdapat beberapa block juga yaitu Block 25, Block 30, Block 32, Block 50 dan Block 52. Sedangkan varian E/F adalah Block 60 seperti yang dimiliki oleh UEA.


Dari semua block diatas yang menjadi acuan pengembangan KFX adalah F-16 C/D Block 52 seperti yang digunakan oleh AU Singapura dan Pakistan. Kita ketahui sendiri bahwa F-16 Block 52 pesanan AU Pakistan baru selesai dikirimkan dari Amerika ke Pakistan beberapa tahun yang lalu (masih baru), sehingga bisa dikatakan F-16 Block 52 ini termasuk dalam kategori yang modern. Hal ini juga menjadi kenyataan bahwa tidak semua jenis F-16 sudah harus masuk museum 10 tahun lagi seperti yang di sebutkan dalam tulisan tersebut. Nah, KFX yang di harapkan lebih baik dari F-16 Block 52 tentunya adalah juga termasuk dalam kategori modern. Dalam tulisan tersebut saudara admin MilitaryOfMalaysia.net mungkin tersilap atau lupa bahwa tidak semua F-16 adalah ‘teknologi 1970-an’. Saya pribadi bisa memaklumi itu karena saya sendiri sering tersilap atau lupa dalam menulis suatu artikel.


Koreksi kedua yang ingin saya lakukan adalah pada tulisan point ke 19 :


” 19.Perlu diingatkan, jet pejuang KF-X direka untuk menandingi jet-jet pejuang yang dipakai oleh Korea Utara Korea Selatan secara teknikal masih belum berdamai dengan Korea Utara. Sekarang sudah 2010, Korea Utara masih lagi menggunakan jet-jet pejuang yang ketinggalan zaman seperti Chengdu F-7B, Shenyang F-5, Shenyang F-6, MIG-21, MIG-23 dan MIG-29.”


Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa selain dengan Korea Utara, Korea Selatan juga memiliki potensial perselisihan dengan tetangganya yaitu Cina dan Jepang. Menurut saya Korea Selatan tidak hanya melihat Korea Utara sebagai tantangan, tetapi juga CIna dan Jepang, sehingga menggerakkan mereka mengembangkan KFX. Kalau tujuan pengembangan KFX hanya untuk menandingi jet-jet tempur tua Korea Utara, saya rasa jet buatan Korea Selatan yaitu F/A-50 sudah cukup mumpuni melawannya. Tinggal diperbanyak saja jumlahnya, karena dari segi teknologi, dari semua type pesawat Korea Utara masih bisa di hadapi dengan F/A-50 kecuali Mig-29. Tetapi kita harus ingat, selain F/A-50, Korea Selatan juga memiliki ratusan F-5 E/F, F-4 Phantom, KF-16 dan F-15 Slam Eagle. Jadi menurut saya, Korea Selatan pasti memiliki pandangan yang lebih jauh dari sekedar memandang Korea Utara.


KFX dimaksudkan oleh Korea Selatan sebagai pengganti F-5 E/F dan F-4 Phantom yang sudah tua. KFX ini nantinya diharapkan sebagai Fighter pendamping dari Fighter utama yaitu F-15 dan KF-16. Seperti kita ketahui bersama bahwa selain project KFX, Korea Selatan juga tertarik membeli F-35 sebagai pengganti armada F-15 dan F-16 mereka nantinya. Jadi kedepan korea selatan akan dilengkapi dengan KFX (Semi Stealth) dan F-35 Stealth sebagai jet tempur angkatan udara mereka. Jadi jelas sekali project KFX ini bukan sekedar menandingi Korea Utara, tetapi juga menandingi kekuatan udara Cina dan Jepang.


Masa Depan KFX di Angkatan Udara Indonesia


Sama seperti angkatan udara Korea Selatan, KFX juga memiliki peranan penting dalam angakatan udara Indonesia kedepan. KFX ini memang di proyeksikan sebagai pengganti F-16 TNI AU di masa yang akan datang. Namun banyak sekali blogger yang salah mengartikan kehadiran KFX ini di TNI AU seolah-olah dimasa yang akan datang TNI AU hanya akan menggunakan KFX saja. Padahal dari awal sudah di rencanakan bahwa KFX hanya akan menggantikan peranan F-16 sebagai ‘Second Fighter’ di Indonesia. Sedangkan ‘First Fighter’ TNI AU akan tetap dipegang oleh Sukhoi dan penggantinya nanti.


Saat ini Indonesia memiliki 3 jenis Fighter, yaitu F-5 E/F (yang akan diganti pada tahun 2015 dengan kandidat Su-35 BM), F-16 (yang akan diganti pada tahun 2025 oleh KFX) dan Sukhoi 27/30 (yang akan digantikan sekitar 2030-2035 dengan kandidat Sukhoi FAKPA). Dimasa yang akan datang, KFX akan didampingi keluarga Sukhoi yaitu Sukhoi 35 BM dan Sukhoi FAKPA. Namun kemungkinan ini adalah sebuah prediksi yang bisa saja berubah, tergantung kebijakan pemerintah dan perubahan hubungan tatanan antar Negara di dunia ini.


KFX dan Kemandirian Alutsista Indonesia


Saat ini Indonesia sedang serius melakukan modernisasi militernya, termasuk angkatan udara. Salah satu langkah yang cukup harus didukung adalah langkah pemerintah yang mulai bergerak kearah kemandirian alutsista. Kemandirian ini akan membuat Indonesia tidak lagi sepenuhnya bergantung kepada luar negeri, walaupun mungkin dalam beberapa teknologi masih akan tetap mengandalkan Negara lain. Salah satunya adalah project KFX/IFX ini yang diharapkan akan menambah pengalaman ahli-ahli design Jet Tempur dari Indonesia dan juga menambah pengalaman Industri Dirgantara Indonesia. Sehingga diharapkan suatu saat nanti pengalaman ini bisa digunakan untuk membuat hal-hal baru di dalam Industri Strategis Indonesia.


KFX/IFX ini masih dalam tahap perancangan design awal, mungkin 10 tahun lagi baru masuk masa produksi. Indonesia juga sudah mengutus puluhan ahli-ahli dari Indonesia untuk bergabung dengan project KFX ini di Korea Selatan. KFX ini sejatinya masihlah sebuah pesawat tempur diatas kertas alias belum nyata. Project ini bisa saja gagal (tentu kita tidak menginginkan ini terjadi), namun bisa saja berjalan dengan lancar. Keberanian menanggung resiko dalam membuat sebuah keputusan adalah langkah maju dari suatu Negara. Indonesia sudah melakukannya, dan mari kita segenap Bangsa Indonesia mendukung project ini seraya berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.


Sekian dulu tulisan saya kali ini, sudah cukup letih saya menulisnya dan saya persembahkan tulisan ini kepada segenap bangsa Indonesia dan pembaca sekalian. Salam KFX, Salam Kemandirian Alutsista Indonesia. Admin AnalisisMiliter.com


Kata Kunci : KFX| Pesawat Tempur KFX| Industri Dirgantara Indonesia

Sumber : http://analisismiliter.com


Artikel ini menarik bagi Anda? Mari kita berdiskusi dan berbagi informasi terkait artikel ini dengan memberikan komentar di bawah ini. Mungkin saja tulisan yang saya sampaikan masih kurang tepat, sehingga komentar dan perbaikan dari anda dapat memberikan masukan baru sehingga kita semua mendapatkan informasi yang benar-benar akurat. Silahkan komentari artikel ini menggunakan Account Sosial Media anda, namun hindari memberikan komentar yang menghina atau merendahkan pihak manapun.