Industri Strategis (Militer) di Asia Tenggara (Part 1)

03 May 2012 | by Admin | 17255 views | comments


Sudah beberapa hari ini saya tidak memposting tulisan di blog ini, bukan karena saya tidak memiliki bahan yang ingin di publikasikan namun lebih dikarenakan kesibukan saya yang membuat saya tidak memiliki banyak waktu untuk menulis artikel. Namun pada mala mini, sehabis pulang dari ujian tengah semester di Kampus (saya masih anak kuliahan loh, belum sarjana) saya akhirnya menyempatkan diri menulis artikel di blog ini. Ini juga sebagai bentuk apresiasi saya buat pembaca blog ini yang dalam beberapa kesempatan meminta kepada saya aga mengupdate artikel di blog ini secara berkala. Ada permintaan yang langsung di tujukan ke saya, namun ada juga yang meminta melalui perantaraan teman saya. Ya benar, beberapa blogger dari Malaysia (yang aktif di salah satu blog militer yang popular di Malaysia) meminta saya untuk mengupdate kembali blog ini melalui perantara sahabat saya. Saya ucapkan atas kesediaan sahabat-sahabat dari Negara seberang berkunjung di blog ini.


Pada artikel kali ini, saya akan mengangkat sebuah topic yang cukup umum dan mungkin sudah banyak sekali yang mengetahuinya. Namun saya rasa tidaklah salah jika saya menuliskannya kembali dari persepsi saya pribadi. Topik yang saya maksud adalah Industri Strategis Militer di Asia Tenggara. Membahas topic ini cukup menarik dan juga sangat menantang buat saya pribadi, karena saya harus menyampaikan data dan fakta yang objectif. Objectif dalam artian bahwa saya harus fair, mengatakan yang bagus pada hal yang bagus dan mengatakan hal yang jelek untuk yang jelek. Terlepas itu berasal dari Negara saya atau Negara yang lain. Saya juga mengharapkan buat teman-teman yang membaca artikel ini untuk menyikapi artikel ini dengan bijaksana. Jika ada mungkin tulisan saya ini kurang tepat menurut anda, mari silahkan di evaluasi dan di koreksi. Saya juga mengundang teman-teman pembaca semua untuk terlibat aktif dalam diskusi di bagian bawah setiap artikel ini


Industri Pesawat Militer


Untuk Industri Pesawat Militer di kawasan Asia Tenggara bisa dikatakan tidak banyak yang terlihat yang bisa dibandingkan dengan Industri Pesawat Militer seperti yang ada di Amerika maupun di Eropa. Namun untuk sekala yang lebih kecil dan cukup diperhitungkan secara global, kita patut berbangga karena di kawasan Asia Tenggara ada sebuah Industri Pesawat Militer yang cukup disegani yaitu PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Dahulu PT DI ini bernama IPTN. PT Dirgantara Indonesia/Indonesian Aerospace (IAe) adalah salah satu perusahaan kedirgantaraan/aerospace nasional dengan core kompetensinya di bidang disain pesawat, pengembangan dan produksi pesawat komuter regional untuk keperluan sipil dan militer.


Di bidang produksi pesawat militer, PT Dirgantara Indonesia telah memproduksi lebih dari 300 unit pesawat & helicopter baik hasil lisensi dari Negara lain maupun hasil kerjasama seperti pesawat CN-235 yang merupakan hasil kerjasama PT DI dengan CASA Spanyol. Pesawat CN-235 ini merupakan hasil kerjasama dengan CASA Spanyol yang dimulai dari Tahap perancangan, design sampai dengan produksinya. Selain pesawat tersebut, saat ini PT DI juga dipercaya sebagai tempat produksi untuk pesawat jenis NC212 seri 400. Hal ini dikarenakan pabrikan sebelumnya CASA Spanyol (telah diakusisi Airbus Military) lebih memfokuskan diri untuk produksi pesawat yang lebih besar yaitu C-295.




Dukungan pemerintah terhadap kemanjuan PT DI sebagai industry strategis bidang militer di Indonesia akhir-akhir ini sudah sangat terasa dan sangat berbeda ketika saat krisis moneter beberapa tahun lalu. Jika dulu PT DI hampir bangkrut, saat ini PT DI sudah kembali ke ‘jalan yang benar’ menuju Industri yang disegani di regional. Dukungan ini antara lain pesanan sebanyak 3 pesawat CN-235 MPA yang saat ini sedang dalam tahap pengerjaan,pesanan 7 Helicopter Bell-412 untuk Kemenhan (3 diantaranya sudah selesai yaitu 2 untuk TNI-AD dan 1 untuk TNI-AL). Selain itu, PT DI juga mendapat pesanan 9 pesawat C-295 dimana 2 diantaranya akan di buat langsung di Spanyol (Airbus Military), dan sisanya akan dikerjakan di PT DI (sepertinya PT DI diberikan lisensi untuk membuat pesawat ini).


Selain itu, PT DI juga tengah giat mengembangkan pesawat kecil yaitu N-219 yang sangat cocok untuk dijadikan sebagai armada transportasi kedaerah pedalaman seperti di derah Papua dan daerah lainnya. Pesawat N-219 ini merupakan murni hasil rancangan putra-putri terbaik Indonesia. Pesawat ini memang belum dalam tahap produksi, namun langkah kedepan sepertinya cukup menggembirakan. Jika PT DI dulu dengan dukungan penuh dari pemerintah berhasil menciptakan pesawat yang jauh lebih besar yaitu N-250 Gatotkaca, maka pesawat N-219 ini pasti bisa di produksi PT DI asal mendapat dukungan penuh dari pemerintah.


Selain memproduksi pesawat, PT DI juga memproduksi helicopter dibawah lisensi Negara lain. Contohnya adalah Helicopter Puma dan Super Puma, Bell-412, NBO-105. Selain itu PT DI juga memproduksi beberapa komponen pesawat komersial pesanan dari Negara lainnya. Namun untuk produksi komponen pesawat saya kira tidaklah terlalu istimewa kerena Negara lain juga bisa melakukannya.


Kembali ke pesawat CN-235, bisa dikatakan ini adalah pesawat yang bisa membawa harus nama Indonesia ke pentas dunia. Pesawat ini sudah banyak sekali di gunakan diseluruh dunia. Baik itu produksi Spanyol Maupun PT DI. Khusus untuk CN-235 yang di diproduksi dan di distribusikan oleh PT DI adalah sebanyak 64 Unit yaitu :

1. Angkatan Udara Republik Indonesia 9  unit CN-235
2. Tentara Udara Brunei Darrusalam 1 unit CN-235.
3. Tentara Udara Diraja Malaysia 8 unit CN-235.
4. Angkatan Udara Korea Selatan 8 unit CN-235-110.
5. Penjaga Pantai Korea Selatan/KCG 4 unit CN-235 MPA.
6. Angkatan Udara Pakistan 4 unit CN-235.
7. Angkatan Udara Uni Emirate Arab/UAE 7 unit CN-235.
8. Angkatan Udara Burkina Faso 1 unit CN-235
9. Angkatan Udara Senegal 2 unit CN-235.
10.Departemen Pertanian Thailand 2 unit CN-235
11.Merpati Nusantara - Indonesia 15 unit CN-235
12.Angkatan Laut Republik Indonesia 3 unit CN-235 MPA (dalam proses pengerjaan).  


Produksi terakhir yang sudah selesai dikerjakan adalah 4 CN-235 MPA yang dipesan Korean Cost Goard yang merupakan pesawat intai maritime. Keempat pesawat ini sudah selesai dikerjakan dan semuanya sudah diberikan ke Korea Selatan. Dengan penambahan 4 CN-235 berarti Korea Selatan sudah mengoperasikan 12 pesawat CN-235 produksi PT DI (sebelumnya mereka sudah mengoperasikan 8 CN-235-110) dan 8 CN-235 produksi CASA Spanyol. Itu artinya dari 20 CN-235 yang dipakai Korea Selatan, 12 diantaranya adalah produksi PT DI Indonesia.


Pesawat yang sejenis dengan pesana Korean Cost Guart, juga tengah dikerjakan sebanyak 3 CN-235 MPA pesanan TNI AL. Diharapkan dalam waktu dekat pesawat ini sudah bisa di serahkan ke TNI AL. dan belum lama ini terdengar berita kalau Kemenhan menambah pesanan sebanyak 2 CN-235 sehingga total pesanan Kemenham menjadi 5 pesawat. Namun dua pesawat terakhir belum tau jenis yang mana. Angakatan Udara Malaysia sendiripun menggunakan 8 buah pesawat CN-235 produksi PT DI Indonesia.


Dilihat dari perkembangan PT DI saat ini, patutlah sebagai warga Negara Indonesia kita berbangga, namun janganlah kita menjadi sombong karenanya. Di Asia Tenggara mungkin PT DI bisa dianggap sebagai yang terbaik di bidang Industri pesawat Militer, namun dikancah global, PT DI masih harus bersaing dengan banyak sekali perusahaan yang lebih besar. Namun untuk ukuran ASEAN, belum ada Negara lain yang bisa menandinginya. Singapura juga memiliki Indutri Pesawat yang cukup bagus, namun mereka belum pernah menciptakan pesawat yang sekelas dengan CN-235, atau N-250 ataupun N-219. Namun untuk komponen pesawat, saya kira cukup banyak Negara ASEAN sudah bisa memproduksinya, mungkin hanya masalah kepercayaan yang membuat PT DI lebih di perhitungkan (CMIIW).


Malaysia juga setau saya sudah bisa memproduksi beberapa komponen pesawat, namun itu masih sebatas produksi komponen pesawat. Hal ini juga sudah dilakukan PT DI Indonesia, perusahaan Singapura dan mungkin Negara ASEAN lainnya juga mampu melakukan hal yang sama. Namun Malaysia juga belum mampu memproduksi pesawat sekelas CN-235, N-250 ataupun N-219.


Dari penjelasan diatas semuanya terlihat bahwa di bidang Industri Strategis Pesawat Militer, Indonesia selangkah lebih maju di bandingkan Negara-negara ASEAN lainnya. Setidaknya sampai dengan saat ini. Namun kita tidak boleh lengah, dan harus terus belajar untuk menciptakan produk-produk baru supaya terus bisa mempertahankan keunggulan Industri Strategis ini. Kita juga berharap pemerintah Indonesia mendukung PT DI untuk mewujudkan Industri Militer sekala Global yang disegani. Kita juga berharap agar pemerintah tidak lagi mau di dikte lembaga Internasional, seperti IMF yang telah memberikan persyaratan bantuan ke Indonesia ketika dilanda krisis ekonomi. Syaratnya saat itu adalah penghentian dana ke Industri Strategis seperti PT DI (dulu IPTN), yang menjadi penghambat kemanjuan PT DI kala itu.


Sekian dulu tulisan saya kali ini, dan akan saya lanjutkan pada tulisan bagian kedua artikel ini, Tulisan kedua akan saya posting beberapa hari lagi. So, tetap setia menanti update terbaru dari blog ini ya.



Kata Kunci : Industri Militer ASEAN| Militer ASEAN| PT DI| CN-235| N-250| N-219

Sumber : http://analisismiliter.com


Baca juga artikel terkait lainnya :



Artikel ini menarik bagi Anda? Mari kita berdiskusi dan berbagi informasi terkait artikel ini dengan memberikan komentar di bawah ini. Mungkin saja tulisan yang saya sampaikan masih kurang tepat, sehingga komentar dan perbaikan dari anda dapat memberikan masukan baru sehingga kita semua mendapatkan informasi yang benar-benar akurat. Silahkan komentari artikel ini menggunakan Account Sosial Media anda, namun hindari memberikan komentar yang menghina atau merendahkan pihak manapun.